Sunday, February 11, 2018 0 komentar

Suwarnadwipa & Pulau Pagang : Javanese People Lost in Padang

Alkisah ada Javanese People yang tidak sengaja terdampar di Ranah Minang. Tak ayal lagi Rendang sudah menjadi sebuah makanan pokok yang tidak terhindarkan. (Hahaha, intro macam apa ini :D). Pada Oktober 2015 saya ke Padang, bisa dibilang hanya mampir di sela-sela keperluan Business, yang menyempatkan diri melihat lihat keadaan sekitar (Halah). Perjalanan saya ke Padang melalui darat karena domisili saya di Dumai Riau, kurang lebih 9-10 jam perjalanan menggunakan travel. Daripada menggunakan pesawat mesti ke Jakarta/ Pekanbaru dahulu baru ke Padang, selain capek juga bokek. Hehe.

Padang adalah kota besar jadi banyak pilihan untuk menuju ke sana menggunakan Pesawat. Bisa lewat Jakarta, Pekanbaru, Batam, bahkan bisa dari Jogjakarta, semua penerbangan tersebut direct alias langsung. Jika ditanya apa saja wisata di Padang, karena sifatnya cuma menyempatkan diri, saya kurang optimal menikmati destinasi disana. Tapi acara mampir-mampir saya bolehlah kami bagikan ke “Uda” semua.

Suwarnadwipa Beach Club Resort 

Lokasi Suwarnadwipa tidak jauh dari Kota Padang, yaitu di pesisir sebelah Selatan kota Padang bagian Barat Pantai Sumatera. Perjalanan kesana tidak bisa menggunakan perjalanan darat, karena memang tidak ada fasilitas jalan raya yang betul-betul ke Resort tersebut. Bisa dibilang letaknya cukup private karena tidak berdekatan dengan fasilitas apapun, meski, dia berada di utama Pulau Sumatera. Untuk lebih jelasnya, check this out this map.

Lokasi Suwarnadwipa Beach Resort (Source : Google Maps)

Perjalanan ke Resort tersebut menggunakan perahu motor dengan lama perjalanan sekitar ± 30 menit, ada beberapa pilihan untuk menuju resort tersebut, bisa melalui Pelabuhan Bungus, Pelabuhan Muaro atau Pelabuhan Carocok Tarusan. Jika ingin praktis, banyak tersedia paket wisata yang bisa temen-temen temukan di internet. Bisa “One Day Trip” maupun yang menginap. Jenis fasilitas yang ditawarkan pun cukup bervariasi dari Snorkling, Banana Boat, hingga foto underwater, akomodasi sudah termasuk di dalamnya. 


Dermaga Suwarnadwipa

Yap, beginilah penampakan sebelum masuk ke Suwarnadwipa Beach Club Resort, sebuah resort yang hanya satu-satunya di lanskap tersebut, ditambah bagian belakang masih dikelilingi hutan. Memang bener-bener terkesan seperti “Lost Island”, dimana kita melarikan diri dari hiruk pikuk kesibukan, maupun mantan-mantan yang tidak diinginkan. Hehe.

Welcome to Suwarnadwipa

Orang Ilang No. 1

Karena keterbatasan waktu, praktis kami hanya foto-foto dan sedikit menikmati pemandangan. Resort ini sebenarnya sangat unik, dengan membawa nuansa tradisional Rumah Padang dengan atapnya yang khas dan dindingnya yang didominasi oleh bahan kayu. Sayangnya saya tidak sempat masuk ke dalam resort, padahal saya cukup penasaran dengan bagian dalamnya.


Orang Ilang No. 2

Hasil searching di Google, resort ini memiliki situs sendiri yaitu https://suwarnadwipa.co.id/. Temen-temen bisa menggali lebih dalam untuk informasi lebih lanjut. Resort ini memiliki cukup banyak kamar dengan berbagai kelas sebut saja ada 8 Business Room, 3 Cottage, 5 Gazebo dan Backpacker untuk 50 orang. 


Orang Ilang No. 1 dan No. 2 Gabung

Komentar sedikit untuk lanskap pantainya, panjang bibir pantai tidak panjang dan area yang memiliki pasir pantai tidak terlalu luas, bisa dibilang mini pantai.hehe. Jika kita bermain air harus hati-hati karena banyak batuan batuan di depan area pantai. Cukup unik, next time mungkin saya ingin lebih mengexplorasi spot ini.

Pulau Pagang

Tidak jauh dari spot Suwarnadwipa Beach Club Resort, terdapat Pulau Pagang, untuk akomodasi hampir mirip dengan Suwarnadwipa, bisa menggunakan perahu motor kurang lebih 45 menit. Bahkan ada paket wisata yang menggabung perjalanan ke pulau-pulau kecil sekitarnya seperti Suwarnadwipa-Pagang-Pasumpahan-Pamutusan, memang pulau-pulau ini saling berdekatan.

Lokasi Pulau Pagang (Source : Google Maps)


Untuk areal pantai saya lebih suka Pulau Pagang dibanding Suwarnadwipa, pantainya lebih luas dan panjang sehingga sangat menyenangkan untuk berlarian maupun bermain air. Pasirnya putih ditambah banyak pohon kelapa, dapet lah suasana pantainya.

Dermaga Pulau Pagang

Banyak terdapat gazebo untuk kita duduk bersantai dan menikmati semilir angi pantai. Bagi temen-temen yang ingin menginap, terdapat cottage di pulau ini, dari hasil googling,tarif menginap di pulau pagang biasanya menjadi satu dengan paket wisata. 


Sugeng Rawung teng Pulau Pagang

Gazebo dan Tempat Leyeh-leyeh

Senasib dengan perjalanan ke Suwarnadwipa, saya disini hanya sekedar main air, foto-foto, dan nunjuk-nunjuk perahu gak jelas.hehe. Oh ya rekan saya menyempatkan snorkeling, disini disewakan peralatan snorkeling. Secara visual dari dermaga, airnya cukup jernih, sehingga cukup menyenangkan untuk snorkeling. Apakah saya Snorkeling? Jawabannya tidak, karena saya gak bawa baju ganti. Haha.

"Itu Ada Perahu !!", "Iye Gw Tahu Kalau Itu Perahu" 

Dengan segala keterbatasan yang ada, sepertinya bisa dibilang saya masih belum khatam di Pulau Pagang, seandainya berkemah dan bermalam dengan api unggun pasti seru. Oh ya bakar ikannya jangan lupa.

Jernih Om Airnya

Bukit Tinggi

Dalam perjalanan menuju pulang kami melewati kota Bukit Tinggi, maka tidak ada pilihan lain selain foto di Jam Gadang yang legendaris, lumayan walaupun hanya beberapa menit.

Gelap dan Blur, yang Penting Ada

Alhasil, gelap dan blur. Haha. Dimalam selarut itu, waktu itu pukul 11 malam, suasana di Jam Gadang masih ramai penjual. Dan, satu rasa yang tidak saya lupakan. Duingin Puol. ENJOY PADANG :D
Friday, November 10, 2017 0 komentar

HIK (Hidangan Istimewa Kampung), Angkringannya Kota Solo

Kota Solo adalah kota yang teristimewa di hati saya, selain tempat kelahiran, tempat masa kecil dihabiskan dan tempat semua kenangan indah bermula (Ceilaah). Jika pulang ke Solo maka waktu seminggu serasa sehari, always miss you Solo, my lovely City.hehe. Baiklah saya akan mengulas sedikit tentang HIK (Hidangan Istimewa Kampung) atau kalau di  Jogja dikenal dengan istilah angkringan.
HIK atau Angkringan sudah booming bukan hanya di daerah asalnya Solo dan Jogja, ketika saya merantau ke Jakarta angkringan pun sudah banyak tersebar. Dahulu ketika saya masih kecil, HIK ini hanya berupa gerobak kayu, dan menjadi makanan paling legend adalah “Sego Kucing” (Nasi Kucing) dimana nasi sekitar 3-4 suap, dengan sambal dan sesuwir bandeng. Dengan porsi dan lauknya maka kita tidak akan bertanya lagi kenapa dinamakan “Sego Kucing”.hehe. Untuk minuman ada kopi, jahe, susu jahe maupun the. Tidak luput aneka macam makanan cemilan, seperti gorengan, sate-satean seperti sate ayam, sate keong, kulit, kikil yang dijual satuan. Dimana bisa kita ambil sesuai selera, jika ingin hangat bisa kita minta untuk dibakarkan pakai kecap.
Seiring bertambahnya waktu, HIK tidak lagi sesederhana itu. HIK tidak lagi identik dengan kesederhanaan, tetapi sudah menjelma menjadi tempat nongkrong kalangan bawah sampai atas, mau harga murah sampai mahal pun ada, tergantung tempatnya. Modelnya pun bermacam-macam dari model vintage ala rumah joglo, lesehan pondok-pondok kayu, sampai model mewah kaya istana pun ada.hahaha. Makanan juga jauh lebih bervariasi, dengan tidak mengesampingkan pakem HIK konvensional, dengan menambah menu-menu variasi yang kreatif. Mari kita mulai dari tempat angkringan yang dekat rumah saya daerah Perumnas Dempo, Mojosongo, Solo. Check this out.

OMAH WEDANGAN

Terletak di Jalan Jaya Wijaya, Mojosongo. Jika ada temen-temen berjalan dari timur ke barat di sepanjang Jalan Jawa Wijaya maka tidak lebih 30 meter dari SDN Mojosongo 3 (SD gw.hehe). Letak HIK ini tepat di depan praktik Dokter Lukas dan pinggir jalan utama sehingga mudah untuk ditemukan.


Dengan membawa suasana yang didominasi pondok-pondok kayu baik yang kursi maupun lesehan membuat tempat ini nyaman dikunjungi. Tempatnya luas sehingga bisa menampung banyak pengunjung, kebanyakan adalah pengunjung adalah anak muda, wajar mengingat banyak terdapat perguruan tinggi kesehatan disekitarnya.


Di bagian depan angkringan ini sebenarnya ada beberapa kursi dengan meja (non lesehan), tetapi jumlahnya tidak banyak, bisa dijadikan alternatif bagi yang tidak suka lesehan. Tetapi bagi saya pribadi lebih mantab jika lesehan. Untuk parkir bisa dibagian dalam maupun luar, jika dibagian luar luasannya hanya sedikit karena dipinggir jalan besar. Tetapi jika parkir di dalam bisa cukup banyak tempat. Tetapi hanya untuk parkir motor.


Untuk makanannya cukup variatif (seabreg malah, saking banyaknya) dan harganya pun cukup murah, makanan dari gorengan, aneka sate, aneka nasi bungkus, untuk makan besar pun juga ada seperti mie godhood jowo (mie rebus jawa), mie mawut (nasi goreng campur mie), nasi goreng dsb. Disini makanan ambil sendiri atau pesan untuk makanan yang perlu persiapan, bayar, dikasih nomor kursi. Tinggal tunggu makanan siap :D


Disamping dekat dengan rumah (tinggal ngesot) dengan harga dan suasananya. Angkringan ini menjadi angkringan favorit saya. Apalagi ketika malas pergi jauh tetapi masih pengen nongkrong, tempat ini selalu menjadi pilihan pertama.




KONCO LAWAS

                Masih di dekat rumahku dan tidak jauh dari Omah wedangan, di jalan jayawijaya. Namun lokasinya kita mundur ke arah Timur lagi, yaitu hanya beberapa meter dari SDN Mojosongo 3 dan masih dalam 1 sisi jalan.
                Ruangannya cukup nyaman hanya tidak banyak, makanannya pun tidak terlalu variatif tetapi untuk mie nyemeknya memang bikin ketagihan. Pada momen tertentu ada live music yang dipertunjukkan disini. Untuk harga masih tergolong terjangkau.


Di angkringan ini tidak ada lesehan, semuanya berupa meja dan kursi. Ada sebagian yang indoor dan sebagian di area terbuka dengan payung yang besar. Suasana yang dibawa di angkringan ini adalah modern dan terasa lebih ke “Café”



NDORO JENONG

                Jika ingin suasana Vintage, khas rumah-rumah solo zaman dahulu, maka ndoro jenong bisa menjadi alternative pilihan. Di Jalan Sumpah Pemuda tidak jauh dari Universitas Slamet Riyadi Solo, hanya beberapa meter ke sebelah timur, terdapat angkringan yang menjual suasana yang unik, seunik namanya “Ndoro Jenong”. Ndoro dalam bahasa berarti Tuan dan Jenong pasti kawan-kawan sudah tahu artinya yaitu dahi yang luas. Jika digabung berarti Tuan yang Berdahi Luas. Hahaha.


Dengan mengusung aroma vintage yang cukup kental, Ndoro Jenong bernuansa rumah-rumah solo zaman dahulu, dengan pernak pernik yang unik, seperti Patung Semar, lampu jawa kuno, miniatur-miniatur mini yang tersebar di sudut-sudut ruangan, dinding dan sekat kayu yang memiliki ukiran, bahkan lilin yang tersaji di tengah meja menambah suasana menjadi adem dan tenang.


Dari sisi makanan menurut saya kurang bervariatif, masih banyak yang perlu dilengkapi itemnya. Dengan bermodal suasana yang sudah bagus, jika memiliki item panganan yang lebih lengkap, pelanggan bisa berbetah-betah di angkringan ini.


LAWANG DJOENDJING

Saya rasa, inilah angkringan yang paling spektakuler dari sisi bangunan yang pernah saya kunjungi. Hahaha. Kesan saya pertama adalah ini angkringan, apa istana :D. Jika kawan-kawan memasuki kota Solo akan menemui banyak Baliho Lawang Djoendjing, ya, memang pemiliknya adalah selain pengusaha angkringan juga sebagai pengusaha Baliho. Letak angkringan ini ada di sebelah timur palang joglo, cara paling gampang adalah mengikuti baliho-baliho yang terpampang di jalan.

Source: media-cdn.tripadvisor.com
Arti dari Lawang Djoendjing adalah Pintu yang Miring, Pintu yang tidak seimbang antara kiri dan kanan. Karena itulah pintu masuknya berupa gerbang dengan sisi pintu yang miring, gerbangnya begitu besar, sehingga dijamin terpana pada kesan pertama. Hahaha.


Source: media-cdn.tripadvisor.com
Bicara menu, Lawang Djoendjing memiliki menu yang sangat lengkap, aneka cemilan dan nasi kucing, serta aneka macam minuman. Yang patut dicoba, dan selalu mencari ini kesini adalah Sate Kere, Dari arti bahasa nya arti Sate Kere adalah Sate Miskin, karena salah satu itemnya menggunakan Tahu Gembus, yang bahannya didapat dari sisa pengolahan tahu. Tapi ada item mewahnya juga seperti babat, kikil dan jerohan lainnya (kolesterol warning.hehe). Yang bikin ketagihan adalah saus satenya, yang terbuat dari sambel pecel, dijamin mantab.



Untuk area angkringan ini sangat luas dan memiliki dua lantai, kebetulan saya memilih di lantai atas. Ada yang tempat duduk dengan meja panjang menghadap ke jalan, meja untuk kelompok kecil 4-5 orang atau bahkan meja untuk kelompok besar. Saya memilih meja dan kursi dengan nuansa jawa zaman dulu. Dengan kursi anyaman bambu, kembali kemasa saya kecil dulu, karena saya pernah memiliki kursi seperti itu. Kawan-kawan bisa mencoba teh poci yang bisa diminum ramai-ramai, dengan gula batu dan perangkat gelasa dan poci yang terbuat dari tanah liat menambah Vintage suasana.


Untuk suasana memang angkringan ini juara, tapi rekan-rekan perlu menyiapkan kocek yang sedikit dalam untuk nongkrong disini. Harga masih dalam taraf wajar mengingat suasana yang disajikan.

WEDANGAN PENDHOPO

Mari bergeser ke arah kota, karena keempat angkringan di atas dekat dengan rumahku semua.hehe. Wedangan pendopo walaupun berada di pusat kota tetapi lokasinya masuk ke gang kecil, tapi jangan khawatir google maps siap membantu.hehe. Dengan membawa suasana vintage yang kental dan rumah yang bernuansa jawa kuno, angkringan ini membawa suasana homy, apalagi bagi saya yang asli jawa, jatuh cinta dengan suasana dan ketenangannya.
Source: destinasian.co.id
Dengan tema yang sama dengan Ndoro Jenong, wedangan ini pun dipenuhi pernak pernik kuno, seperti patung jawa, furniture kuno, bahkan motor jadul pun terpasang di ruang tamu angkringan ini. Tidak luput foto-foto pelanggan yang pernah datang, bahkan kabarnya pak jokowi pernah berkunjung ke wedangan ini.


Bisa dibilang angkringan ini berupa rumah jawa yang kemudian disulap menjadi tempat angkringan, selain ruang tamu, bagian samping dan belakang rumah juga ditambahkan tempak duduk dan ruang-ruang tambahan. Uniknya bagian belakang ada pondok yang terbuat dari kayu yang kita bisa lesehan di dalamnya bahkan ada yang mesti kita naik tangga karena pondok tersebut dibagian atas, favorit buat yang pacaran.hehe.

Source: destinasian.co.id
Untuk makanan bisa dibilang lengkap, aneka satenya lengkap, minumannya pun lengkap, yang patut dicoba adalah “Sego Jangan Ndeso”, jangan diartikan nasi jangan desa ya. Hehe. Dalam bahasa jawa “Jangan” adalah masakan/sayur, jadi sego jangan ndeso adalah nasi sayur ndeso. Walaupun komponennya cukup simple yaitu nasi dengan tahu tempe yang dimasak sedikit pedas, tapi simplenya itulah yang bikin dahsyat.

Source: soloraya.com

Thursday, July 13, 2017 0 komentar

TRAVELLING KE PULAU BELITUNG - LASKAR PELANGI

Bila temen-temen belum mendengar mengenai Pulau Belitung maka kamu akan membuat Bang Rhoma Irama berkata, “Terlalu…”.hehe. Memang diakui bahwa Pulau ini baru benar-benar booming pada akhir-akhir ini, semua berkat novelnya Mas Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Tapi jika kita masih ingat pelajaran Geografi selama kita bersekolah, maka paling tidak kita ingat bahwa Pulau Belitung adalah pulau penghasil timah terbesar di Indonesia dan bahkan Dunia.

Pulau Belitung terletak di antara Pulau Sumatera (bagian Selatan) dan Pulau Kalimatan (bagian Barat). Pulau ini masuk provinsi Kepulauan Bangka Belitung, selain Pulau Belitung ada juga Pulau Bangka. Pulau ini memiliki dua Kabupaten yaitu Kabupaten Belitung yang berpusat di Tanjung Pandan dan Kabupaten Belitung Timur yang berpusat di Manggar.


Lokasi Pulau Belitung
Source : maps.google.com
Menurut pemandu yang membawa perjalanan kami, Pulau Belitung sebelum munculnya Novel Laskar Pelangi, bisa dibilang sepi pengunjung dan jalanannya belum terlalu bagus. Tetapi, setelah novel Laskar Pelangi keluar, pulau ini banyak diburu wisatawan. Spot-spotnya wisatanya pun berbau cerita dari cerita Laskar Pelangi. Pada kesempatan ini saya akan share pengalaman ketika ke Pulau Belitung pada Bulan Januari 2017, karena hanya berupa family tour satu hari, maka tidak banyak tempat yang saya kunjungi.
Cukup banyak penerbangan dari Jakarta menuju pulau ini dengan harga tiket terjangkau. Jika pesan jauh hari, kamu bisa mendapat tiket pada kisaran 400rb untuk maskapai low cost. Dengan pilihan jadwal dan maskapai yang cukup banyak, dijamin tidak kesulitan ke Belitung. Atau jika anda dari Palembang, pun juga terdapat flight langsung dari Palembang. Anda akan mendarat di Bandara H.A.S Hanandjoeddin – Tanjung Pandan, setiba di Pulau Belitung.

Bandara H.A.S Hanandjoeddin - Tanjung Pandan
Sebagai bukti telah sampai di Belitung, ada background “Belitung” di Bandara, sayang dilewatkan untuk foto-foto. Hehe. Oh ya, penerbangan dari Jakarta cukup singkat yaitu hanya satu jam, cocok untuk weekend teman-teman yang domisili di Jakarta, dengan berangkat sabtu pagi dan pulang pada minggu sorenya.

Welcome to Belitong
Di Belitung banyak pilihan penginapan, dari bintang satu sampai bintang empat. Saya pribadi untuk pemesanan tiket pesawat maupun booking hotel, hampir selalu mengandalkan pemesanan online, selain praktis juga bisa melihat perbandingan harga dengan cepat. Kebetulan kami menginap di BW Suite, hotelnya cukup bagus dengan pemandangan di samping laut.

PANTAI TANJUNG PENDAM

Pantai yang saya kunjungi pertama ini adalah Pantai Tanjung Pendam, lokasinya tidak jauh dari tempat kami menginap yaitu kurang dari 2 km, karena sama-sama di daerah Tanjung Pendam, melihatnya pertama kali ada sedikit perasaan kurang puas, karena pantai ini kurang bersih dan pasirnya kurang indah.

Pantai Tanjung Pendam
Pantai ini cenderung tidak ada ombak, sehingga kehilangan suasana pantainya, tetapi jika temen-temen mencari tempat makan, banyak terdapat di sekitar pantai ini. Terutama untuk makanan-makanan seafood.
 
Suasana Pantai Tanjung Pendam

REPLIKA SEKOLAH LASKAR PELANGI

Jika sudah membaca novel atau menonton film Laskar Pelangi, pasti sudah sangat mengenal sekolah ini, yaitu Sekolah Muhammadiyah Gantong, tetapi sekolah ini adalah sekolah replika. Sekolah inilah yang digunakan sebagai lokasi shooting film Laskar Pelangi. Letaknya di Gantung, Kabupaten Belitung Timur, sehingga saya perlu 3 jam untuk mencapai lokasi ini karena di Timur Pulau sedangkan saya menginap di Tanjung Pandan yang berada di sebelah Barat Pulau.


Tulisan Replika Sekolah Laskar Pelangi
Tempat wisata ini memang cocok untuk berfoto, sembari merasakan suasana personil Laskar Pelangi ketika bersekolah, di tengah keterbatasan yang ada. Atap seng, dinding dari bilah-bilah kayu, lantai ruangan sekolah yang berpasir dan tidak ada ubin, meja belajar yang reyot, cukup seru ketika kita berada di dalamnya.

Halaman Depan Replika Sekolah Laskar Pelangi
Selain berfoto, banyak terdapat tempat penjualan souvenir sebelum masuk area replika sekolah. Seperti baju bertuliskan Laskar Pelangi, gantungan kunci maupun tempelan kulkas. Harga souvenir di tempat wisata biasanya mahal, akan tetapi ditempat ini harganya tergolong murah dan wajar. Tetapi jika kawan-kawan adalah penghobi batu cincin, terdapat batu langka bernama Batu Satam, batu ini langka karena hanya terdapat di Belitung. Batu ini konon adalah batu meteor, bentuknya hitam pekat dan tidak halus pada permukaannya. Harganya ketika itu 100rb/cincin. Bahkan terdapat monumen Batu Satam di tengah Tanjung Pandan. 

Bagian Dalam Kelas Replika Sekolah Laskar Pelangi

MUSEUM KATA ANDREA HIRATA

Tidak sampai 2 km dari lokasi Replika Sekolah Laskar Pelangi, masih di daerah Gantung, terdapat Museum Kata Andrea Hirata. Bisa dibilang ini adalah memorial untuk Laskar Pelangi, museum dipenuhi warna ceria pada dindingnya, lukisan, fotografi, kata-kata mutiara, pernak pernik unik laskar pelangi dan banyak lagi. Museum ini belum lama berdiri yaitu tahun 2010.

Museum Kata Andrea Hirata
                Jika ditilik dari bangunan yang digunakan, sepertinya bekas rumah penduduk Belitung tempo dulu karena memiliki jendela-jendela kayu yang panjang dan atap seng yang khas. Untuk tiket masuk memang agak lumayan yaitu 50rb/orang dan teman-teman akan mendapat buku ringkasan novel Laskar Pelangi, yang di dalamnya terdapat cuplikan moment-moment utama di novel Laskar Pelangi.

Bagian Depan Rumah Museum Kata 
Bagian Dalam Museum Kata
Hal unik lainnya adalah, dibagian belakang museum ini terdapat semacam dapur yang difungsikan sebagai tempat berjualan kopi dan beberapa cemilan, Kedai Kopi Kuli namanya. Anda bisa meminum kopi disitu, karena disediakan cukup banyak tempat duduk. Jika ingin membawa pulang kopi tersebut, tersedia kopibubuk dalam kemasan. Souvenir seperti baju dan gantungan kunci dijual disini tetapi jumlahnya tidak banyak. Berhubung saya tidak memiliki foto yang cukup representatif maka saya sedikit mengambil dari internet.

Kedai Kopi Kuli
Source : media-cdn.tripadvisor.com

KAMPOENG AHOK


Karena tinggal ngesot dari Museum Kata Andrea Hirata, saya menyempatkan melihat Kampoeng Ahok. Hehe. Kampoeng Ahok bukanlah sebuah perkampungan, tetapi sebuah replika rumah keluarga besar Ahok. Rumahnya tipe tradisional, berdinding kayu yang di vernis, cukup indah dan terasa homy.

Halaman Depan Replika Rumah Ahok
Source : detiktravel.com
Saya tidak sempat masuk ke dalam hanya menengok dari luar, didalam menjual souvenir-souvenir seperti baju dengan karikatur Ahok, kemeja, kain, makanan-makanan kecil, dan pernak pernik lainnya. Selain itu terdapat gambar-gambar karikatur Pak Ahok, dan kita bisa duduk-duduk di dalam rumah tersebut karena disediakan lesehan dan meja kecil.

Replika Rumah Ahok

PANTAI TANJUNG TINGGI - PANTAI LASKAR PELANGI

                Bisa dibilang ini adalah pantainya Laskar Pelangi, karena terdapat salah satu scene dimana Laskar Pelangi rame-rame main ke pantai ini. Lokasi pantai ini di Desa Keciput, Kabupaten Belitung. Di Pantai ini banyak terdapat batu-batu besar dan tinggi, pastikan berhati-hati waktu memanjat batu-batu tersebut karena tidak ada fasilitas pengaman.

Pantai Tanjung Tinggi
Batu-batunya yang besar membuat pantai ini unik dan berbeda dari pantai-pantai yang lain. Jika anda haus, ada yang menjual minuman dan kelapa muda. Harga kelapa mudanya jauh lebih miring dari kelapa muda di Pantai Kuta Bali. Hehe.

Batuan di Pantai ini Sangat Besar
Pantai ini Berair Tenang dan Tidak Berombak

RESTORAN FEGA SEAFOOD


Sedikit review restoran yang sempat kami singgahi yaitu Restoran Fega Seafood. Lokasi restoran ini ada di Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Untuk suasana, memang restoran ini punya nilai lebih, karena letaknya yang di samping danau. Selain itu, restoran ini juga memiliki replika kapal yang menyatu dengan tempat makan, sehingga membuat restoran ini tambah unik. Untuk makanan cukup enak dan banyak variasi, ada ikan bakar, sate ikan, kepiting, dan banyak lagi, tetapi harganya memang cukup lumayan.

Replika Kemudi Kapal

Replika Kapal yang Menyatu dengan Ruang Makan
Selain itu mereka juga memiliki dermaga yang menjorok ke danau, tetapi hati-hati jangan sampai tercebur, info pemandu kami ada buaya di danau ini. Kalau rekan-rekan kurang percaya bisa di coba nyebur.hehe.

Dermaga di Danau Rumah Makan Fega
Source : bobocantik.com
Dengan luas restoran yang cukup besar, restoran ini cocok untuk acara rombongan dalam jumlah banyak. Mereka juga memiliki taman yang asri dan banyak pepohonan. Juga terdapat semacam aula terbuka yang bisa digunakan untuk acara bersama. Untuk mushola cukup nyaman dan bersih.

Taman yang Asri dan Penuh Pepohonan

OLEH-OLEH KHAS BELITUNG


Variasi oleh-oleh khas Belitung cukup banyak, karena terkenal dengan seafood maka beberapa oleh-oleh banyak dari olahan seafood seperti kerupuk ikan. Kerupuk ikan ini pun banyak sekali variasi dan bentuknya. Ada juga kerupuk gong-gong, gong-gong adalah siput laut. Hampir sama dengan yang saya temui di Pulau Bintan.

Kerupuk Ikan Khas Belitung
Source : belitungoktour.com
Nah, kalau ini adalah oleh-oleh kesukaan saya, yaitu sirup jeruk kunci. Pertama saya lihat, saya pikir ini adalah sirup jeruk nipis biasa, ternyata setelah saya coba antara rasa manis dan asamnya seimbang, selain itu ternyata ada c ampuran roselanya, sehingga terasa sangat segar apalagi ditambah es. Gambar dibawah adalah Sirup Jeruk Kunci yang saya beli.

Sirup Jeruk Kunci
Source : bukalapak.com
Ada satu lagi yang saya suka adalah Permen Gula Kabung, kalau saya menyebutnya permen kelapa karena rasa kelapanya yang sangat terasa. Sebenarnya di tempat saya tinggal cukup banyak tetapi yang membuat permen ini ketagihan adalah dia lumer dan lengket di mulut, kemudian selain manis ada rasa gurih kelapa yang nendang dibagian belakang. Berbeda dengan permen kelapa yang saya makan sebelumnya, biasanya keras dan dominan manis saja. Kalau tidak salah merk yang saya beli adalah seperti gambar dibawah, yang saya ingat dia dibungkus dengan kertas warna-warni.

Permen Gula Kabung
Source : tokopedia.net
Penulis sarankan untuk menyempatkan diri menyeberang ke Pulau Lengkuas (Soalnya kemarin belum sempat.hehe). Pemandangannya indah, memiliki pantai jernih yang berbatu, dan bisa dilihat melalui Mercusuar. SELAMAT BERPETUALANG DI NEGERI LASKAR PELANGI :D

                
 
;